lihat juga

Wednesday, January 23, 2013

Wasista Bambang Utoyo

Ketua DPRD Sumsel Wasista Bambang Utoyo mengatakan, untuk tahun anggaran 2011,DPRD bersama Provinsi Sumsel telah menyepakati memberikan dana hibah untuk klub sepak bola Sriwijaya FC (SFC) melalui KONI Sumsel sebesar Rp25 miliar dan keputusan tersebut dituangkan dalam bentuk perda.

“Keputusan itu telah disetujui Mendagri, artinya tetap jalan, kecuali ada sesuatu hal yang mengharuskan bantuan dana hibah tersebut dibatalkan. Jika itu terjadi,dana tersebut sebaiknya dialihkan menjadi dana silpa dan bisa digunakan saat ABT atau pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun selanjutnya. Dia melanjutkan, jika Mendagri secara resmi mengeluarkan ketetapan mengenai larangan menggunakan APBD untuk mendukung klub sepak bola daerah, manajemen SFC harus bekerja keras mendapatkan sponsor demi kelangsungan tim.

Wakil Ketua DPRD Sumsel A Djauhari menambahkan,pemberian bantuan kepada SFC sesungguhnya tidak mengganggu sektor pembangunan daerah Sumsel karena alokasinya berbeda.“Kecuali jika Mendagri telah menetapkan keputusan dan menyatakan penggunaan dana ini melanggar hukum, jangan dipaksakan, lebih baik kita mencari jalan lain yang terbaik,”ujarnya.

Ke depan, dia mengimbau SFC dapat memanfaatkan bantuan dana yang telah diberikan dengan menunjukkan prestasi terbaik sehingga membuat banyak pihak tertarik menjadi sponsor, sebelum SFC benar-benar mandiri.“Kalau bisa mandiri tentu lebih bagus, tetapi tentunya diharapkan prestasinya tetap bagus,”katanya. Sementara itu, Manajemen klub SFC, PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM), menyatakan kesiapannya lepas dari ketergantungan APBD.

Namun, Direktur Keuangan PR SOM Augie Bunyamin menilai untuk menghentikan bantuan APBD kepada klub sepak bola profesional agar dilakukan kajian terlebih dahulu sebelum diambil keputusan. Menurut Sekum PSSI Sumsel ini, tidak banyak klub profesional di Indonesia yang mampu bertahan hidup jika rencana tersebut ditetapkan. “Kalau kita,jelas siap karena di Sumsel banyak perusahaan besar, baik berupa BUMN maupun swasta, yang bisa diajak kerja sama menjadi sponsor selain yang saat ini telah mendukung.

Jika memang akan ditetapkan mulai tahun depan atau kompetisi berikutnya, berarti kita masih banyak waktu untuk berbuat sesuatu,” ungkapnya kemarin. Augie menjelaskan, salah satu dampak yang timbul apabila terdapat klub yang tidak sanggup membiayai sendiri keuangannya, maka praktis akan menjalani kompetisi tertinggi di Indonesia, yakni Liga Super Indonesia (LSI) tanpa diperkuat pemain asing.Dengan kondisi tersebut, dia mempertanyakan apakahklubtersebutdapatbertahan dengan materi pemain lokal sementara klub lain menggunakan jasa pemain asing.

Selain itu, tanpa pemain asing, kemungkinan besar kompetisiLSIberkuranggeregetnya. “Jika itu terjadi, kemungkinan besar hanya klub-klub besar yang mampu bertahan, seperti Semen Padang, Arema FC, Pelita Jaya yang merupakan klub milik perusahaan serta Persija, Persib, SFC dan beberapa klub lainnya. Karena mereka memiliki banyak perusahaan besar yang bisa dijadikan untuk men-support pengeluaran klub selama menjalani kompetisi,” paparnya.

Hal senada diungkapkan Direktur Teknik dan SDM PT SOM Hendri Zaenuddin. Menurut anggota DPRD Banyuasin ini, apabila ketetapan itu nantinya final, pemerintah tidak memberikan toleransi kepada klub yang masih menerima dana dari APBD.“Kalau memang seperti itu maka jangan sampai ada celah. Karena kemungkinan besar klub yang tidak sanggup mencari sponsor akan mencari celah menggunakan APBD dengan berbagai cara dan jelas harus ada sangsi tegas untuk itu. Itu demi kebaikan kita bersama,”katanya. Demikian catatan online Pertempuran Hati tentang Wasista Bambang Utoyo.

ads

Ditulis Oleh : erhan ahong Hari: 11:30 AM Kategori:

0 comments:

Post a Comment

surf