Sistem Pemilu Amerika Cocok Diterapkan di Indonesia
Pesta demokrasi yang berlangsung di Amerika Serikat, memberi dampak besar terhadap negara-negara di dunia, khususnya Indonesia. Hal ini diperbincangkan para mahasiswa Universitas Hasanuddin, di UPT Perpustakaan kampus merah tersebut, Rabu 7 November. Unhas menghadirkan Political Officer Duta Besar Amerika Serikat, Moulik Berkana, dan Chief of Consular USA Surabaya, Chris Santoro.
Pemilihan presiden di negara serikat tersebut, berlangsung kemarin, dan membuat Barack Obama, terpilih kembali untuk menjadi presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya. Dosen Universitas Hasanuddin, Dr Adi Suryadi Culla yang memberi materi dalam diskusi tersebut, menjelaskan, salah satu pelajaran penting dari pesta demokrasi Amerika adalah, sistem pemilihan umum di negara tersebut.
"Sistem pemilihan di Amerika Serikat tidak dengan sistem proporsional seperti di Indonesia. Meskipun kita sama-sama penganut sistem demokrasi presidensial. Presiden di Amerika terpilih tidak hanya karena meraih suara terbanyak dari seluruh pemilik hak suara, seperti Indonesia," kata dia.
Keterpilihan seorang presiden di Amerika lebih ditentukan oleh pengambilan suara melalui electoral vote, atau suara yang mewakili setiap distrik (electroral) di semua negara bagian di Amerika. "Jadi, meskipun berhasil menjadi peraih suara terbanyak dalam popular vote, belum tentu menang, jika tak meraih skor tertinggi secara electoral college," kata Adi. Menurut dia, sistem pemilihan tersebut, membuka peluang lebih besar bagi masing-masing perwakilan di setiap wilayah, untuk menjadi calon presiden.
Jika diterapkan di Indonesia, kata dia, peluang bagi kandidat-kandidat di luar Pulau Jawa untuk menjadi presiden, lebih besar. "Selama ini pemilihan Presiden selalu dimenangkan oleh kandidat dari pulau Jawa dan sekitarnya," tukas Adi.
Hal lain yang menarik dari sistem pemilihan umum di Amerika adalah, pemanfaatan teknologi komunikasi untuk voting.
Moulik Berkana menjelaskan, meskipun dia berada di Indonesia, namun dia sudah melakukan mengirimkan nama calon presiden yang dia pilih, melalui surat sejak dua minggu lalu ke panitia pemilihan di Amerika. Menurut dia, perangkat teknologi yang canggih telah membuat warga Amerika kini bisa menentukan pilihan calon presiden melalui fax, surat elektronik, dan website.
Sistem rekrutmen calon presiden Amerika juga cukup ketat, dan hanya meluluskan dua calon presiden, masing-masing dari Partai Demokrat dan Republik. Meskipun berdemokrasi, kata Adi, Amerika tidak seperti di Indonesia, yang para kandidat presiden lebih leluasa untuk untuk mencalonkan diri, asalkan mendapat dukungan partai.
Terkait Barack Obama, menurut sejumlah mahasiswa yang menjadi audiens diskusi tersebut, kebijakan luar negeri Amerika di kawasan Asia, khususnya timur tengah lebih baik. Obama yang berasal dari Partai Demokrat, selama ini cukup lunak dalam mengeluarkan kebijakan perang di Timur Tengah, dan lebih terbuka dengan negara-negara Islam. Obama pernah menarik tentara AS dari Timur Tengah. Ini berbeda dibandingkan presiden dari Partai Republik, yang cenderung memperkuat militer di Timur Tengah.
Diskusi tersebut diselenggarakan American Corner UPT Perpustakaan Universitas Hasanuddin. (sbi/sil)





0 comments:
Post a Comment