lihat juga

Tuesday, April 30, 2013

Kemenangan Mutlak 'Si Merah'

 thumbnail
Dibayang-bayangi oleh sanksi yang harus dijalani oleh Luis Suarez --pencetak 23 dari 67 gol Liverpool, atau 34%-nya-- Brendan Rodgers membawa anak-anak asuhannya bertandang ke St. James Park. Namun, tanpa ujung tombak andalannya tersebut The Reds malah mampu mengoyak jala gawang Newcastle enam kali. Mereka pun mencatatkan kemenangan terbesarnya di musim ini.

Sementara itu, bagi Newcastle, kekalahan ini seakan mempertegas kembali melorotnya performa The Magpies di beberapa pekan kebelakang. Dalam 5 pertandingan terakhirnya, Newcastle sendiri hanya mampu mencatatkan 1 kali kemenangan saat mengalahkan Fulham 1-0. Dalam sisa empat pertandingan lainnya, Yohan Cabaye dkk. kalah tiga kali dan imbang satu kali.

Kekalahan semalam pun jadi catatan buruk untuk Alan Pardew sebagai pelatih Newcastle. Di bawah kendalinya-lah Newcastle harus menderita kekalahan kandang terburuknya dalam 87 tahun terakhir.

Satu catatan menarik dari pertandingan ini sendiri adalah mengenai umpan-umpan yang dilakukan oleh kedua tim. Newcastle sebagai tim dengan rataan umpan panjang tertinggi di Premier League (rataan 69 long-ball/game), semalam malah lebih sering melakukan umpan pendek untuk menguasai bola. Sedangkan Liverpool, yang setelah ditangani Rodgers jadi tim yang fasih bermain dengan umpan-umpan pendek (rataan 474 shortpass/game, sementara Newcastle 326 shortpass/game), malah menggunakan long-ball sebagai senjata untuk menembus pertahanan Newcastle.

Ya, dalam hal penguasaan dan cara mengolah bola, semalam seolah-olah Newcastle yang menjadi Liverpool, dan Liverpool yang menjelma sebagai Newcastle. Tak heran jika jumlah persentase penguasaan bola Newcastle lebih tinggi dari Liverpool, yaitu 53% berbanding 47%.

Lalu bagaimanakah caranya Liverpool menjadikan minimnya penguasaan bola ini jadi kemenangan mutlak?

Trio Lucas-Gerrard-Henderson Bermain Lebih Dalam

Brendan Rodgers kembali mempercayakan lini tengah Liverpool kepada trio Lucas-Henderson-Gerrard. Trio yang sama yang digunakan saat The Reds ditahan imbang oleh Chelsea.

Namun, lain dengan saat melawan The Blues, Rodgers menginstruksikan Henderson untuk bermain lebih dekat pada Lucas-Gerrard dan bergerak maju hanya saat adanya serangan balik. Ini berbeda dengan minggu lalu, yaitu Henderson yang lebih sering berada di area sepertiga lapangan akhir Chelsea dan berposisi hampir sejajar dengan Coutinho.

Jika di minggu lalu posisi Henderson ini menyebabkan Lucas dan Gerrard terpaksa menyerahkan kendali lapangan tengah pada Chelsea, hal yang sama tidak terulang semalam. Rapatnya posisi trio Henderson-Lucas-Gerrard mampu mengungguli duet Tiote-Perch di lini tengah Newcastle.

*Grafik Passing Lucas Leiva (kiri) dan Jordan Henderson (kanan)


Selain Henderson yang bermain lebih dalam, trio lini tengah Liverpool sendiri acap kali memainkan bola dengan umpan pendek di setengah lapangan sendiri. Hal ini terlihat jelas dari grafik passing yang dilakukan oleh Lucas dan Henderson di atas, yaitu keduanya yang lebih sering mengolah bola di area pertahanan Liverpool.

Dengan cara inilah Liverpool lalu menguasai permainan di lini tengah. Apalagi Alan Pardew sendiri lebih memilih untuk memainkan dua DM (Tiote dan Perch) yang kurang kreatif. Bola yang lebih sering bergulir di lini pertahanan Liverpool pun tidak berbuah pada kesempatan emas untuk Newcastle.

Satu pujian pun patut dialamatkan pada Lucas Leiva yang semalam berhasil mematikan pergerakan Tiote-Perch dan Cabaye. Total 11 tekel ia lancarkan dalam pertandingan ini, menjadikannya pemain dengan defensive action tertinggi. Raihan ini terlihat lebih impresif lagi jika dibandingkan dengan defensive action tim Newcastle, yang hanya mampu menghasilkan total 19 tekel selama 90 menit.

Menyerang dari Sayap

Liverpool mempertahankan pola penyerangan saat melawan Chelsea yaitu dengan menggunakan sisi sayap lapangan untuk membawa bola. Namun, dengan pola yang berbeda di babak pertama dan kedua.

*Grafik Umpan Pendek Liverpool di babak pertama (kiri) dan babak kedua (kanan)


Di 45 menit pertama, Jose Enrique masih sering bergerak naik untuk membantu penyerangan dengan menyisir pinggir lapangan. Akan tetapi di babak kedua, saat passing pendek Liverpool meningkat, bola lebih sering dialirkan ke sayap kanan. Yaitu melalui triangulasi Henderson-Downing-Johnson.

Dari grafik di atas terlihat bahwa ada ruang kosong di area depan Jose Enrique di babak kedua. Salah satu penyebabnya adalah karena di babak pertama Newcastle lebih sering menyerang melalui Moussa Cissoko yang ditempatkan di sayap kanan. Untuk mengantisipasi inilah Enrique lalu mengerem pergerakannya untuk naik menyerang.

Dari grafik crossing Newcastle di bawah pun terlihat bahwa di babak kedua Sissoko tidak lagi menjadi tumpuan Newcastle dalam menyerang. Jika sebelumnya pemain asal Prancis ini masih bisa mengirimkan umpan dari area yang dekat dengan garis ujung lapangan, pergerakannya bisa diredam Enrique di babak kedua.

*Grafik Crossing Newcastle di babak pertama (kiri) dan babak kedua (kanan)


Umpan Panjang di Sepertiga Lapangan Akhir

Selain mengombinasikan pemain tengah yang bermain lebih dalam dan serangan melalui sayap, satu faktor lainnya yang membuat Liverpool mendominasi permainan adalah karena umpan panjang. Memang, dengan Henderson-Gerrard-Lucas yang bermain dalam, bola akan lebih cepat dialirkan ke daerah pertahanan Newcastle dengan menggunakan umpan jenis ini.



Dari grafik di atas terlihat bagaimana pemain-pemain Liverpool yang sering kali mengirimkan umpan panjang dari garis tengah ke daerah sepertiga lapangan akhir Newcastle. Walau dalam grafik di atas umpan panjang Liverpool terlihat sering gagal menemui sasarannya, lini serang Liverpool sebenarnya sering kali melakukan pressure di area pertahanan Newcastle. Karena itu penguasaan bola pun jatuh kembali ke tangan Liverpool.

Dengan melakukan hal ini ada dua keuntungan yang didapatkan oleh Gerrard dkk. Pertama adalah bola yang bisa didistribusikan dengan cepat. Sementara keuntungan kedua adalah memanfaatkan ruang yang lebar antara lini pertahanan Newcastle dan kiper Robert Elliot.

Hal ini terlihat jelas di gol ketiga Liverpool yang dicetak oleh Daniel Sturridge (grafik di bawah). Dengan menggunakan umpan panjangnya, Gerrard mampu melepaskan Henderson dari jebakan offside. Adanya jarak yang terlampau lebar antara keempat bek Newcastle dan kiper kemudian menyebabkan lini pertahanan The Magpies tak mampu menutup pergerakan Henderson.



Efektif Tanpa Suarez?

Untuk menggantikan Suarez, Brendan Rodgers menempatkan Sturridge sebagai ujung tombak dan Coutinho sebagai gelandang serang. Sementara itu, Downing dan Henderson bertindak sebagai second line serangan yang menopang pergerakan Sturridge-Coutinho. Sebenarnya, konsep Rodgers ini tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Liverpool dengan Suarez sebagai striker tunggal. Namun, dengan menggunakan Sturridge, pola penyerangan Liverpool sendiri menjadi lebih sederhana dan cepat.

Hal ini dikarenakan Suarez biasanya bergerak melebar ke arah kanan atau kiri gawang, atau ke area byline, dan coba melewati lawannya dengan dribbling. Momen ini lah yang sering dimanfaatkan oleh bek lawan untuk kembali ke posisinya masing-masing. Tanpa Suarez, lini serang Liverpool jadi lebih cepat mengalirkan bola, yaitu melalui umpan through-ball atau umpan satu-dua yang dilakukan oleh dua pemain di posisi terdepan.

Selain itu, dalam diri Sturridge, Coutinho, Downing, dan Henderson, Liverpool memiliki lini serang yang memiliki kecepatan sama, sehingga keempatnya mampu mengimbangi satu sama lain. Saat Suarez bermain, acap kali hanya Sturridge-lah yang mampu mengikuti kecepatan dribble Suarez dalam menyerang.

Karena itu, tak heran gol kedua, ketiga, dan keempat Liverpool terjadi dengan proses yang hampir sama. Yaitu dua pemain depan yang berposisi hampir sejajar bergerak ke depan gawang, diakhiri dengan umpan mendatar di depan gawang. Seperti yang telah disebutkan di atas, ketiga gol ini pun memanfaatkan ruang lebar antara lini pertahanan Newcastle dan Robert Elliot.

*Proses gol kedua, ketiga, dan keempat Liverpool


Faktor Coutinho

Tanpa adanya Suarez, yang memang sering bergerak bebas di sepertiga lapangan akhir, Coutinho menjadi titik tumpu Liverpool menciptakan peluang untuk teman-teman setimnya. Coutinho pun membalas kepercayaan ini dengan menciptakan 5 umpan terobosan (3 akurat --terbanyak diantara pemain lainnya) dan berkombinasi dengan efektif dengan Henderson, Sturridge, dan Downing.

Dari action heatmap serta grafik passing-nya di bawah juga terlihat bagaimana Coutinho sering bergerak tepat di luar kotak penalti, dan siap memberikan umpan-umpan terobosan yang membelah pertahanan Newcastle. Coutinho juga acap kali bergerak kebawah untuk menjemput bola, dan menjadi penghubung antara lini tengah dan lini depan. Bahkan, dengan visi dan kreativitasnya pemain ini mampu memberikan assist untuk Sturridge melalui celah sempit di antara kedua center-back Newcastle.

Dengan penampilannya ini, tak salah jika Rodgers memberi Coutinho nomor punggung 10 saat merekrutnya dari Inter Milan.





Uniknya, performa ciamik Coutinho ini sempat memicu satu ‘diskusi’ singkat antara Joey Barton dan eks pemain Liverpool, Robbie Fowler. Kala itu, Barton mendebat pujian Fowler pada Coutinho dan mengatakan bahwa pemain-pemain Latin memang lebih bersinar setelah musim semi. Bahwa pesepakbola seperti Cazorla performanya akan meredup saat datangnya salju dan dinginnya angin di Inggris.

Didatangkan pada bulan Januari, Coutinho sendiri belum mengalami musim dingin di Inggris yang diungkapkan oleh Barton. Namun, dengan 2 gol dan 4 assist-nya tentu tak salah jika dikatakan Coutinho adalah salah satu pembelian terbaik Liverpool di musim ini. Menarik untuk ditunggu apakah pemain asal Brasil ini mampu mematahkan hipotesis Barton. (detik.com)

ads

Ditulis Oleh : erhan ahong Hari: 6:16 AM Kategori:

0 comments:

Post a Comment

surf