lihat juga

Tuesday, April 30, 2013

Kejelian Benitez Meredam Basel

 thumbnail
Chelsea sudah melangkahkan sebelah kakinya di final Liga Europa yang akan digelar di Amsterdam Arena 15 Mei nanti. Dua gol yang dicetak Victor Moses dan David Luiz ke gawang FC Basel cukup untuk membungkam publik St Jakob-Park yang tak pernah melihat timnya kalah sejak dua tahun silam.

Memang, terakhir kalinya Basel menderita kekalahan adalah saat mereka dibekuk 2-3 oleh Spartak Moskow di kompetisi yang sama pada Februari 2011. Lalu bagaimana caranya tim yang diarsiteki oleh Rafa Benitez menaklukkan Basel?

Peran Luiz yang EFektif Meredam Serangan

Rafael Benitez enggan mengulang kesalahan Tottenham Spurs yang kala dikalahkan Basel bermain terlampau terbuka. Basel sendiri memiliki kebiasaan selalu bermain menyerang saat berlaga di kandang sendiri.

Hal ini terlihat dari line-up komposisi trio pemain tengah yang dipercayakan pada Geoffrey Serey Die-Fabian Frei-Mohammed Elneny. Semuanya adalah tipikal pemain attacking midfielder yang lemah saat menghadapi counter attack. Hal inilah yang dimanfaatkan Hotspur menjadi gol di laga sebelumnya: serangan balik.

Untuk mengefektifkan pola ini, Benitez lebih memilih memakai David Luiz-Frank Lampard sebagai double-pivot di tengah dan mengistirahatkan Juan Mata-John Obi Mikel. Luiz yang biasa diplot sebagai center back sengaja dinaikkan Benitez ke posisi defensive midfielder guna meredam aliran bola dari Basel yang didominasi oleh Fabian Frei dan Mohammed Elneny.

Jika dilihat sekilas, posisi Luiz sepanjang pertandingan selalu berada di depan Ivanovic. Ini dikarenakan Luiz ditugasi oleh Benitez untuk menempel ketat Marco Steller. Tujuannya sederhana: agar Steller jangan sampai menguasai bola di area pertahanan Chelsea.

Strategi ini terbukti ampuh. Steller pun berkali-kali kesulitan menembus John Terry. Karena itu Steller terpaksa bergerak merapat ke Valentin Stocker untuk membongkar barisan kanan Chelsea melalui umpan satu dua. Ya, peran Luiz untuk meredam serangan Basel dari lini tengah sangat membuat Basel kesulitan.

*Posisi Luiz (4) dan Streller (9) ditandai oleh lingkaran merah


Sudah menjadi kebiasaan Basel memang selalu memanfaatkan ruang di depan kotak penalti untuk menjadi gol. Berkali-kali gol melalui shooting keras dari barisan belakangnya yang bergerak maju berhasil di ciptakan di St Jakob-Park. Di laga tadi malam, center back Fabian Schaer berhasil membuat dua attempts ke gawang Cech melalui dua tendangan keras dari luar kotak penalti.

Peran Lampard Memulai Serangan

Kecerdikan Benitez menduetkan Lampard dan Luiz sangat terasa saat Chelsea menyerang dan bertahan. Dua pemain inilah yang jadi kunci Chelsea untuk mengatur tempo pertandingan. Saat akan menurunkan ritme permainan, biasanya bola yang didapat Luiz tak langsung dialirkan kedepan melainkan ditahan di area pertahanan sendiri. Caranya adalah dengan mengumpan ke belakang.

Ini terlihat dari chalkboard di bawah. Saat berada di garis pertahanan sendiri Luiz lebih cenderung menurunkan tempo.

Namun, saat menyerang Lampard-lah yang menjadi andalannya. Berbeda dengan Luiz, saat menguasai bola di daerah pertahanan, Lampard cenderung langsung mengumpan ke depan (Torres–Hazard) melalui umpan-umpan panjang.

Hal ini dikarenakan posisi Lampard memang terlalu jauh mundur ke belakang, sehingga tak efektif jika serangan dilakukan melalui umpan-umpan pendek secara perlahan. Untuk mengisi celah antara Lampard dan lini depan ini, Luiz terkadang bergerak naik ke tengah garis lapang. Terlebih lagi setelah Juan Mata masuk untuk menggantikan Lampard di menit 80. Posisi Luiz, yang semula bertahan, jadi lebih menyerang.



Chelsea yang Bertahan

Di babak pertama, Chelsea acap kali mengubah pola 4-3-3 jadi 5-3-1-1 saat bertahan. Ini dilakukan dengan menarik mundur Luiz sebagai center back ke dalam kotak penalti. Menumpuknya pemain Chelsea di lini pertahanan sendiri ini membuat Basel hanya memanfaatkan serangan dari lini sayap.

Terlihat dari chalkboard di atas, peran serta duet double-pivot Luiz dan Lampard membuat Basel lebih banyak menyerang dari sayap kiri bukan sayap kanan. Hal ini relevan, terutama jika melihat peran full-back kanan Cesar Azpilicueta dan Ramires yang sering naik ke depan. Benitez memang mengoptimalisasi serangan melalui sayap kanan dengan duet Azpilicueta-Ramires.

Hanya saja, Chelsea kalah dalam pertarungan di lini ini, karena Azpilicueta dan Ramirez ditugasi Benitez bukan untuk menyisir garis tepi lapang. Tugas mereka adalah untuk maju sampai area sepertiga lapangan akhir kemudian dilanjutkan dengan cutting-inside ke kotak penalti. Selain itu, keduanya juga berperan untuk membuka ruang di tengah bagi Fernando Torres. Terlihat beberapa kali, saat Azpilicueta naik ke depan, ia lebih memilih bergerak ke depan kotak penalti dan bukan menyisir sisi lapangan.

Andaikan barisan sayap Basel lebih tenang dan tidak tergesa-gesa memberikan passing, mungkin gol akan lebih mudah tercipta. Ini dikarenakan titik kelemahan dari Chelsea adalah pada lini sayap.

*passing Basel dan Chelsea di Babak I


Terbukti, sampai menit 61 Basel berhasil beberapa kali menerebos barisan sayap Chelsea. Bahkan, ada 19 umpan silang yang sampai ke depan gawang Petr Cech. Sayang dari sekian banyak itu, hanya 1 saja yang mampu di konversi menjadi peluang emas oleh Valentin Stocker.

Victor Moses yang Bergerak ke Kanan

Sementara itu, sayap kiri Chelsea cenderung lebih bertahan sepanjang pertandingan. Cole jarang terlalu naik kedepan karena posisi Lampard yang cenderung defensif dan Eden Hazard yang bergeser ketengah. Cole sebenarnya bermain tak baik-baik amat. Ia pun hanya mampu membuat 3 clearance sepanjang 90 menit.

Inilah yang coba dimanfaatkan Basel di babak kedua. Saat menyerang, Basel lebih sering coba membobol sayap Chelsea dengan umpan terobosan ke arah John Terry dan Ashley Cole. Tercatat ada 4 shot off-target dari Basel yang semuanya di awali dengan pola permainan tersebut.

Cole sendiri nampaknya harus sedikit berterima kasih kepada Victor Moses. Oleh Benitez, Moses yang biasanya beroperasi di depan Ramires digeser ke sayap kiri untuk mengisi posisi Hazard (sementara Hazard ditaruh di tengah dan menjadi penghubung antara Lampard dan Torres). Kemampuan defensif Moses-lah yang kemudian membantu Cole dalam menahan serangan sayap kanan Basel.

Ini berbeda dengan sayap kanan Chelsea. Di area ini Benitez sama sekali tak memasang seorang pemain depan dan memberikan kebebasan pada Azpilicueta-Ramirez mengekspolitasi lini itu.

Kondisi ini membuat tugas bertahan mapun menyerang di sayap kiri otomatis di bebankan kepada Moses. Dan ia berhasil membuktikan kepercayaan itu. Saat bertahan Moses mampu membuat 4 intercept dan 1 tackle, sementara saat menyerang ia mampu melakukan 2 shots, 2 crossing dan 2 key-pass.

Di pertandingan tadi malam, Chelsea sangatlah bermain defensif dan efektif dengan tak lama-lama memegang bola. Namun, saat memegang bola langsung cepat melakukan serangan ke titik kelemahan Basel, yaitu di sayap kiri.

Kesimpulan

Di pertandingan ini Benitez menurunkan starting line-up dan gaya bermain yang berbeda dari biasanya. Ia meredam Basel, yang bermain terbuka, dengan bermain defensif dan menempatkan Luiz-Lampard sebagai double-pivot. Selain itu, Chelsea pun menyerang melalui serangan balik lewat umpan-umpan panjang yang dilancarkan Lampard.

Basel sendiri acap kali menembus garis pertahanan Chelsea, terutama dari sektor yang dijaga oleh Ashley Cole. Namun buruknya kualitas umpan silang menyebabkan tim ini tak memiliki banyak kesempatan emas untuk mencetak gol.

(detik.com)

ads

Ditulis Oleh : erhan ahong Hari: 6:14 AM Kategori:

0 comments:

Post a Comment

surf